Senin, 09 April 2012

penyakit protozoa pada sapi


BAB I
PENDAHULUAN


1.1.  Latar Belakang
Dalam pemeliharaan ternak, salah satu penghambat yang sering dihadapi adalah penyakit. Bahkan tidak jarang peternak mengalami kerugian dan tidak lagi beternak akibat adanya kematian pada ternaknya.
Secara umum penyakit hewan adalah segala sesuatu yang menyebabkan hewan menjadi tidak sehat. Hewan sehat adalah hewan yang tidak sakit dengan ciri-ciri (a) bebas dari penyakit yang bersifat menular atau tidak menular, (b) tidak mengandung bahan-bahan yang merugikan manusia sebagai konsumen, dan (c) mampu berproduksi secara optimum.
Berkenaan dengan hal di atas disini penulis akan membahas penyakit protozoa pada sapi

1.2. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menelaah lebih jauh tentang penyakit yang disebabkan oleh protozoa pada sapi

1.3. Metode Penulisan
Penulisan dilakukan secara diskriptif dengan mengambil bahan dari pustakan maupun dari sumber lain yang berkaitan dengan judul makalah.




BAB II
PROTOZOA


2.1. Pengertian
Protozoa berasal dari kata protos yang berarti pertama dan zoo yang berarti hewan sehingga disebut sebagai hewan pertama. Merupakan filum hewan bersel satu yang dapat melakukan reproduksi seksual (generatif) maupun aseksual (vegetatif).Habitat hidupnya adalah tempat yang basah atau berair. Jika kondisi lingkungan tempat hidupnya tidak menguntungkan maka protozoa akan membentuk membran tebal dan kuat yang disebut Kista. Ilmuwan yang pertama kali mempelajari protozoa adalah Anthony van Leeuwenhoek.

2.2. Ciri-Ciri Protozoa
Ukuran protozoa bervariasi , yaitu mulai kurang dari 10 mikron(µm) dan ada yang mencapai 6 mm,meskipun jarang.
Diperairan protozoa merupakan penyusun zooplankton. Makanan protozoa meliputi bakteri, jenis protista lain, atau detritus (materi organic dari organism mati). Protozoa hidup soliter atau berkoloni.jika keadaan lngkungan kurang mneguntungkan protozoa akan membungkus diri membentuk sista untuk mempertahankan diri. Bila mendapat lingkungan yang sesuai hewan ini akan aktif lagi. Cara hidupnya ada yang parasit, saprofit dan hidup bebas.
a) Struktur tubuh
     Organel – organel untuk melakukan kegiatan hidup antara lain, membrane plasma, sitoplasma dan mitokondria. Beberapa jenis protozoa memiliki inti lebih dari satu.
b) Alat gerak
     Alat gerak berupa bulu cambuk (flagella), bulu getar (silia) dan kaki semu (pseudopodia).
c) Reproduksi
    Reproduksi aseksual (Vegetatif ) pada kebanyakan protozoa adalah dengan membelah diri. Namun adapula jenis protozoa yang bereproduksi secara konjugasi yaitu perpaduan antara dua individu yang belum dapat dibedakan jenis kelaminnya.
Cirri-ciri protozoa
1.Umumnya tidak dapat membuat makanan sendiri  (heterotrof)
2.Protozoa memiliki alat gerak yaitu ada yang berupa kaki semu, bulu getar (cillia)  atau bulu cambuk (flagel).
3.Hidup bebas, saprofit atau parasit
4.Organisme bersel tunggal
5.Eukariotik atau memiliki membran nukleus/ berinti sejati
6.Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok)
7.Dapat membentuk sista untuk bertahan hidup. sista, merupakan bentuk sel protozoa yang terdehidrasi dan berdinding tebal mirip dengan endospora yang terjadi pada bakteri
8.Protozoa mampu bertahan hidup dalam lingkungan kering maupun basah.
9.Protozoa tidak mempunyai dinding sel
10.Protozoa merupakan organisme mikroskopis yang prokariot



2.3. Pembagian Kelas
Protozoa dibagi menjadi 4 kelas  berdasar alat gerak
1
Rhizopoda (Sarcodina),
alat geraknya berupa pseudopoda (kaki semu)
• Amoeba proteus
memiliki dua jenis vakuola yaitu vakuola makanan dan
vakuola kontraktil.
• Entamoeba histolityca
menyebabkan disentri amuba (bedakan dengan disentri basiler
yang disebabkan Shigella dysentriae)
• Entamoeba gingivalis
menyebabkan pembusukan makanan di dalam mulut
radang gusi (Gingivitis)
• Foraminifera sp.
osilnya dapat dipergunakan sebagai petunjuk adanya minyak
bumi. Tanah yang mengandung fosil fotaminifera disebut tanah globigerina.
• Radiolaria sp.
endapan tanah yang mengandung hewan tersebut digunakan
untuk bahan penggosok.
2
Flagellata (Mastigophora),
alat geraknya berupa nagel (bulu cambuk). Dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: 
• Golongan phytonagellata
- Euglena viridis (makhluk hidup peralihah antara protozoa
dengan ganggang)
- Volvax globator (makhluh hidup peralihah antara
protozoa dengan ganggang)
- Noctiluca millaris (hidup di laut dan dapat mengeluarkan cahaya bila terkena rangsangan mekanik)
• Golongan Zooflagellata, contohnya :
- Trypanosoma gambiense & Trypanosoma rhodesiense.
Menyebabkan penyakit tidur di Afrika dengan vektor (pembawa)
Þ lalat Tsetse (Glossina sp.) Trypanosoma gambiense vektornya Glossina palpalis Þ tsetse sungai Trypanosoma rhodeslense vektornya Glossina morsitans Þtsetse semak
- Trypanosoma cruzl Þ penyakit chagas
- Trypanosoma evansi Þ penyakit surra, pada hewan ternak
(sapi).
- Leishmaniadonovani Þ penyakit kalanzar
- Trichomonas vaginalis Þ penyakit keputihan
3
Ciliata (Ciliophora),
alat gerak berupa silia (rambut getar) 
• Paramaecium caudatum Þ disebut binatang sandal, yang memiliki dua jenis vakuola yaitu vakuola makanan dan vakuola kontraktil yang berfungsi untuk mengatur kesetimbangan tekanan osmosis (osmoregulator).
Memiliki dua jenis inti Þ Makronukleus dan Mikronukleus (inti  konyugasi.Þreproduktif). Cara reproduksi, aseksual Þ membelah diri, seksual
• Balantidium coli Þ menyebabkan penyakit diare.
4
Sporozoa,
adalah protozoa yang tidak memiliki alat gerak 
Cara bergerak hewan ini dengan cara mengubah kedudukan tubuhnya. Pembiakan secara vegetatif (aseksual) disebut juga Skizogoni dan secara generatif (seksual) disebut Sporogoni.
Marga yang berhubungan dengan kesehatan manusia Þ Toxopinsma dan Plasmodium.
Jenis-jenisnya antara lain:
- Plasmodiumfalciparum Þ malaria tropika Þ sporulasi tiap hari
- Plasmodium vivax Þ malaria tertiana Þ sporulasi tiap hari ke-3
(48 jam)
- Plasmodium malariae Þ malaria knartana Þ sporulasi tiap hari
ke-4 (72 jam)
- Plasmodiumovale Þ malaria ovale
Siklus hidup Plasmodium mengalami metagenesis terjadi di dalam tubuh manusia (reproduksi vegetatif Þ skizogoni) dan didalam tubuh nyamuk Anopheles sp. (reproduksi generatif Þ sporogoni). secara lengkap sebagai berikut:
Sporozoit Þ Masuk Tubuh Di Dalam Hati (Ekstra Eritrositer) Þ Tropozoid Þ Merozoit (memakan eritrosit Þ Eritrositer) Þ Eritrosit Pecah (peristiwanya Þ Sporulasi) Þ Gametosit Þ Terhisap Nyamuk Þ Zygot Ookinet Þ Oosis Þ Sporozeit.

2.4. Peranan
Peran menguntungkan :
1.               Mengendalikan populasi Bakteri, sebagian Protozoa memangsa Bakteri sebagai makanannya, sehingga dapat mengontrol jumlah populasi Bakteri di alam.
2.               Sumber makanan ikan, Di perairan sebagian Protozoa berperan sebagai plankton (zooplankton)  dan benthos yang menjadi makanan hewan air, terutama udang, kepiting, ikan, dll.
3.               Indikator minyak bumi, Fosil Foraminifera menjadi petunjuk sumber minyak, gas, dan mineral.
4.               Bahan penggosok, Endapan Radiolaria di dasar laut yang membentuk tanah radiolaria, dapat dijadikan sebagai bahan penggosok.
Peran Merugikan :
·        Protozoa menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan ternak




BAB III
PENYAKIT YANG DISEBABKAN PROTOZOA
3.1. Neosporosis Spesies
 Neospora adalah protozoa yang hanya baru-baru ini telah diakui sebagai penyebab aborsi pada sapi.  Aborsi mungkin sporadis atau mereka mungkin terjadi sebagai badai. "Neospora adalah" penyebab utama aborsi di perusahaan susu drylot di California dan sering juga didiagnosis pada Nebraska. Meskipun sapi perah tampaknya paling berisiko terinfeksi, ada laporan dari aborsi disebabkan oleh Neospora pada sapi.  Modus penularan Neospora tidak diketahui.  Hal ini diyakini bahwa Neospora memiliki siklus hidup mirip dengan Sarcocystis.  Dengan demikian, karnivora burung atau mamalia diyakini untuk menyebarkan penyakit dan ternak yang diyakini menjadi terinfeksi oleh menelan feed atau hijauan terkontaminasi oleh tinja karnivora. Tidak ada pengobatan yang efektif untuk sapi terinfeksi dengan Neospora. Pengendalian populasi karnivora liar diyakini, saat ini, untuk satu-satunya metode manajemen. Diagnosis aborsi disebabkan oleh Neospora mengharuskan bantuan laboratorium diagnostic.

3.2. Leptospirosis
Sifat dan Kejadian
Leptospirosis pada sapi disebabkan oleh spirocheta yang kecil dan berbentuk filamen, yang terpenting diantaranya adalah Leptospira pamona, L. hardjo, L. grippotyphosa dan L. conicola. Organisme ini mudah dimusnahkan oleh panas, sinar matahari, pengeringan, asam, dan desinfektan. Leptospira dapat hidup selama beberapa hari atau minggu dalam lingkungan yang lembab pada suhu sedang seperti di tambak, aliran air yang macet atau di tanah basah (Toelihere, 1985).
Air merupakan media penyebaran utama untuk penyakit ini. Penularannya dapat pula melalui luka, semen, baik perkawinan alamiah maupun perkawinan dengan IB. selain dapat menular ke ternak lain penyakit ini juga dapat menular ke manusia (Blakely &Bade, 1991). Pembawa utama Leptospira adalah rodentia. Anjing dan babi dapat berfungsi sebagai pembawa potensial (Anonim, 1980).
Penyebaran Leptospirosis bergantung pada keadaan luar, yaitu penyebarannya terutama melalui air dan lumpur. Hewan biasanya mengeluarkan Leptospira melalui air kemih. Bila air kemih in tiba di dalam air atau lumpur yang sedikit alkali atau netral maka Leptospira itu dapat tinggal hidup berminggu-minggu. Bila hewan atau orang kontak langsung dengan air atau lumpur ini maka ia terinfeksi. Leptospira ini masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir konjungtiva, mulut, hidung dan luka kulit.
3.3. Camphylobacteriosis
Sifat dan Kejadian
Camphylobacteriosis yang disebabkan oleh Camphylobakter foetus veneralis (dahulu disebut Vibrio fetus veneralis) adalah salah satu penyakit penyebab utama kegagalan reproduksi pada sapi yang disebarkan melalui perkawinan. Umumnya ditemukan kematian embrio dini atau abortus pada bulan ke-4 sampai akhir kebuntingan (Toelihere, 1985).
Penyebarannya lewat ingesti, masuk darah menyebabkan plasentitis dengan kotiledon hemoragik dan sekitar interkotiledonaria mengalami udema (Prihatno, 2006).
3.4. Tripanosomiasis
Lazimnya dikenal sebagai penyakit Surra, disebabkan oleh semacam protozoa yang merupakan parasit darah yaitu Trypanosoma evansi. Penyakit Surra ini merupakan penyakit menular pada hewan dapat bersifat akut maupun kronis. Penyakit Surra Penyakit Surra biasanya terjadi secara sporadis tetapi kadang-kadang dapat juga terjadi wabah.  Congolense mungkin penyebab dari. The organism is transmitted by Tabanus, Stomoxys, Lyperosaa and Haematobia flies (Scott, 1973), which are prevalent around river banks and watering points in the arid zones. Organisme ini ditularkan oleh Tabanus, Stomoxys, Lyperosaa dan Haematobia lalat (Scott, 1973), yang lazim di sekitar tepi sungai dan titik-titik air di zona kering. Tsetse flies, the main vectors of bovine trypanosomiasis, are not involved in the transmission of T. Tsetse lalat, vektor utama trypanosomiasis sapi.
Cara terbaik untuk mengendalikan penyakit adalah dengan perawatan dengan obat-obatan. Two drugs have proved useful: Naganol (Suramin, Moranyl) and Anthrycide. Dua obat telah terbukti bermanfaat: Naganol (Suramin, Moranyl) dan Anthrycide. It is necessary to give the correct dosage since underdosing may create resistant trypanosomes. Hal ini diperlukan untuk memberikan dosis yang tepat karena underdosing dapat membuat trypanosomes tahan. Scott (1973) reported strains of T . evansi which were resistant to Suramin in Ethiopia and recommended the use of Anthrycide sulphate. Scott (1973) melaporkan strain dari T. Evansi yang tahan terhadap Suramin di Ethiopia dan merekomendasikan penggunaan sulfat Anthrycide. Fazil (1977) reported good results with Anthrycide sulphate injected subcutaneously at a dosage of 4.4 mg/kg body weight, 2 g being sufficient for a 500 kg animal. Fazil (1977) melaporkan hasil yang baik dengan sulfat Anthrycide disuntikkan secara subkutan dengan dosis 4,4 mg / kg berat badan, 2 g yang cukup untuk hewan kg 500.

3.5. Trikomoniasis
                Disebabkan oleh organisme janin Tritrichomonas protozoa, trikomoniasis adalah  penyakit kelamin yang dapat menyebabkan aborsi dan ketidaksuburan. sapi terinfeksi atau Heifers mungkin memiliki  rahim debit selama beberapa bulan. Vaksin tersedia tetapi keberhasilan mereka telah  dipertanyakan. Penggunaan sapi perawan atau inseminasi buatan (AI) akan membantu dalam kontrol. lembu tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit, tetapi mereka mungkin pelabuhan T. foetus janin dalam kulit khatan mereka (selubung) untuk periode kecuali pengobatan khusus diberikan.
Diagnosis trikomoniasis dibuat dengan mengidentifikasi T. janin dengan benar dipersiapkan preputial atau cairan vagina. Bantuan dari laboratorium diagnostik kesehatan hewan biasanya diperlukan untuk diagnosis akurat.

3.6. Sarcocystosis
Sarcocystis spesies protozoa yang kadang-kadang menyebabkan  aborsi pada sapi." Aborsi biasanya sporadis tetapi mereka mungkin terjadi sebagai badai. "Sarcocystis adalah" disebarkan oleh karnivora (liar dan domestik) dan ternak menjadi terinfeksi oleh hijauan pakan menelan atau terkontaminasi oleh tinja karnivora.  Aborsi dapat terjadi pada setiap tahap kehamilan. Tidak ada efektif pengobatan untuk sapi yang terinfeksi dengan Sarcocystis.  Meskipun tidak selalu layak, mengendalikan populasi karnivora liar adalah dikenal satunya metode manajemen.  Diagnosis aborsi disebabkan oleh Sarcocystis membutuhkan bantuan laboratorium diagnostic.



DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar